P2TP2A Beri Pendampingan Tiga Korban

Ilustrasi

Ilustrasi

TENGGARONG – Kasus persetubuhan anak dibawah umur yang dilakukan seorang kakek berinisial KS (60) warga Desa Beringin Agung,Kecamatan Samboja, terhadap tiga bocah mengundang reaksi pemkab Kutai Kartanegara (kukar). Unit Pelayanan Teknisi (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kukar pun bakal turun untuk pendampingan pesikologi serta hukum kepada para bocah malang tersebut.

Kepala Unit P2TP2A Kukar Farida saat dihubungi Kaltim Pos mengatakan, pihaknya berharap peristiwa tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi para orang tua agar tidak melepaskan pengawasan anak kepada orng lain. Bahkan termasuk orang terdekat sekalipun.

Mengingat banyaknya kasus kekerasan anak dibawah umur justru dilakukan orang terdekat korban. Apalagi, imbas dari peristiwa tersebut, trauma yang dirasakan para korban tidak mudah hilang. Jadi, tahapan konseling mesti dilakukan agar tidak berdampak negatife kepada para anak.

“P2TP2A biasanya bakal memberikan pendamping konseling dan hokum kepada para korban tersebut. Nanti kami akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait kasus ini. Semua pihak berharap tiadak ingin kasus serupa terulang kembali, bahkan memunculkan korban lain. Para orang tua jangan mudah percaya kepada siapa pun terkait pengawasan anak. Harus patut curiga dan waspada. Jangan sampai karena kesalahan orang tua,anak yang menjadi korbannya,” terang Farida

Peristiwa kekerasan anak dikukar,kata dia, memang cukup menghawatirkan. Sejumlah faktor kurangnya latar belangkang Pendidikan keluarga korban hingga persoalan lingkungan, membuat peristiwa itu terjadi. Termasuk pemberian sanksi terhadap para tersangka yang masih belum maksimal.

Sementara itu, pihaknya juga sudah berupaya berkoordinasi dengan sejumlah intansi pemerintahan seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (disdikbud), kepolisian, serta rumah sakit, untuk menangani kasus tersebut.

“Pengawasan para anak tentu saja tidak boleh lepas dari orang tua. Untuk kasus yang terjadi pada KS ini, patut menjadi pelajaran sekali. Saya sangat menyayangkan sebenarnya, mengapa orang tua korban terlalu percaya terhadap tersangka. Apalagi ternyata juga tidak memiliki hubungan keluarga kandung. Nah,pelajaran inilah yang harus dipetik bagi masyarakat lainnya,” lanjutnya.

Farida juga tak menampik bahwa setiap tahun Kukar tak pernah lepas dari kasus persetubuhan anak dibawah umur. Berulangnya kasus ini mestinya bias menjadi pelajaran bagi masyarakat agar bias waspada serta mengantisipasi kejadian serupa.

Diberitakan sebelumnya, kasus persetubuhan anak di bawah umur yang dilakukan seorang kakek berinisial KS (60) membuat geger warga setempat. Dari hasil penyelidikan polisi, korban pesetubuhan kini berjumlah tiga orang. Dua diantaranya kakak beradik berinisial SW (13) dan AA (99), serta seorang korban lainnya berinisial PO.

Selain memberi uang jajan, tersangka juga kerap memjemput para korban Bersama istrinya di rumah masing-masing. Alasannya adalah ingin bermain Bersama korban.

Berdasarkan informasi yang dihimpun petugas, modus yang dilakukan tersangka kepada koban, yaitu menjemput para korban dirumahnya. Tersangka bahkan tak segan membawa istrinya untuk meyakinkan orang tua para korban. Selama ini orang tua tersangka telah dianggap sebagai anak angkat oleh tersangkan. Karena itu, orang tua korban yang sudah merasa dekat dan merasa tak asing dengan tersangka, sering mengizinkan anaknya dibawa KS. Dengan dalihingin bermain dengan korban di rumah tersangka.

“Selama ini korban merasa tersangka seperti kakeknya sendiri. Karena sudah begiti dekatnya. Mangkanya kalau orang tua korban bekerja, korban sering dititipkan di rumah tersangka. Kesempatan itu dimanfaatkan tersangka untuk beraksi. Termasuk memperdaya korban yang masih lugu ini,” ujarnya.

Untuk membujuk para bocah menuruti semua kemauannya, korban biasanya diberi uang jajan dengan nilai bervariasi. Pria yang sehari-harinya sebagai petani ini pun sebenarnya sudah memiliki anak kandung serta cucu. Hingga kini, polisi masih mendalami kemungkinan ada korban lainnya yang pernah dicabuli tersangka.

“Kami masih dalami kasus ini. Termasuk mengumpulkan barang bukti. Untuk korban dilakukan pemeriksaan secara khusus oleh polisi wanita yang bertugas di Polsek Samboja.” imbuhny. (qi/san/k16) Sumber : Kaltim Post